
Penamaan Indonesia sebagai negeri yang diberkati berdasarkan data-data yang ditulis oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike Hyphegesis (Hilmy Bakar Almascaty:2008).
Menurut Almascaty, seorang sejarawan terkemuka Universitas Kebangsaan Malaysia, bahwa fokus area Indonesia yang dimaksud itu adalah Taprobana yang ada di wilayah Sumatera. Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana.
Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Lambang Kemewahan
Abbas, Jalalain, al-Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari minuman yang meyehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga. Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisai di dunia Arab pra-Islam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya.
Namun hampir semuanya sepakat bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan Al Quran adalah kapur dari Barus, daerah ujung barat pulau Sumatera sebagai lambang kemewahan pada zaman itu.
Data lainnya adalah Priyatna Abdurrasyid (2009), Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Perancis, menyebutkan bahwa cerita Plato (427 - 347 SM) tentang wilayah Atlantis yang merupakan pusat peradaban dunia pada awal peradaban manusia adalah Indonesia.
Menurut Abdurrasyid, Santosa menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia.
Sementara Robert Dick-Read (2008) penulis buku Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, menunjukkan bukti-bukti arkeologis tentang kejayaan dan peradaban nusantara sekitar 3000 SM. Di abad ini ras Mongol berbahasa Austronesia ke kepulauan Indonesia menggunakan kano-kano dari Formosa, Taiwan.
Mereka datang ke Swarnadwipa (Pulau Emas, yang dikenal Sriwijaya) dengan alasan selain karena negeri ini kaya raya dengan hasil buminya mulai dari tambang emas hingga rempah-rempah tetapi juga terkenal dengan kemahiranya dalam berlaut. Robert Dick-Read bahkan menyebutkan bahwa bangsa China belajar tekhnologi kapal dari para teknokrat Sriwijaya.
Hanya kapal buatan teknokrat Sriwijaya yang bisa dipakai melintasi antarsamudera. Oleh karena armada laut kerajaan Sriwijaya sangat disegani oleh dunia pada awal peradaban dunia ini. Kepiawian para armada laut nusantara ini digambarkan sebagai burung-burung lautan: Cepat, sigap tangkas, berani mengarungi samudera menjangkau negara negara besar lainnya seperti Mesir China, Persia, India, Romawi dan Afrika.
Burung Laut
Sebagai bukti transaski nusantara dengan negara-negara tersebut, Read menggambarkan bahwa 4000 tahun lalu, jejak pelaut Indonesia terekam di kerajaan Mesir, Fir'aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog menunjukkan bahwa Mesir mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari nusantara dengan ditemukannya sebuah wadah wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah oleh Giorgio Buccellati.
Bangsa China saat itu mahir dalam banyak hal, kecuali satu, yakni bidang kelautan. Robert juga menjelaskan masyarakat Madagaskar berbicara dalam bahasa asing, yang mempunyai kemiripan dengan akar bahasa Austronesia, mirip dengan bahasa pedalaman muara sungai Barito Kalimantan dan orang-orang Bajo. Selain itu, mereka menggunakan kano-kano besar bercadik dalam mengarungi samudera.
Armada laut yang perkasa itu adalah para Bajau, disebut juga Bajo, Baju, Waju, atau Bajoo. "Mereka mengarungi lautan seperti layaknya burung-burung laut," kata pelancong bernama Rayomond Kennedy.
Orang Bajo disebut berasal dari Sulawesi, memiliki kekerabatan dengan tau-Wugi. Meski berasal dari Bugis, kebiasaan-kebiasaanya bervariasi, tergantung tempat yang ia diami. Mereka mampu beradaptasi dan dengan cepat menguasai bahasa penduduk lokal.
Orang Bajo ada yang tinggal di perahu kecil atau rumah terapung. Mereka dilahirkan, tinggal, makan, tumbuh, dan meninggal di perahunya. Ada juga yang tinggal di kapal bercadik yang memiliki tiga atau empat penyangga.
Jika orang Bajo telah berlayar dan berdagang secara trampil hingga ke tempat-tempat jauh, sementara orang Bugis memiliki kemampuan sebagai pemimpin angkatan laut. Bangsa Bugis digambarkan sebagai bangsa yang "sentrifugal".
Maksudnya mereka mengirim anggota-anggotanya keluar lembah dan pulau tempat mereka tinggal, untuk mendorong mereka bekerja keras mencari kejayaan dan kebijaksanaan. Makanya, hingga kini koloni orang Bugis masih terdapat di pesisir-pesisir pantai beberapa pulau di Indonesia.
Selain itu, bangsa Bugis mempunyai nilai sebagai pedagang sekaligus prajurit yang setia. Selama berabad-abad mereka merupakan pemain utama pengangkutan rempah-rempah, cendana, mutiara, damar, sarang burung walet, sagu, dan sirip ikan hiu yang telah dikeringkan.
Bugis berhasil menciptakan koloni bahari yang sukses, mampu mendirikan pos-pos perdagangan hampir di setiap pelabuhan Indonesia. Pada abad ke-17, mereka mampu mengambil kerajaan Johor, dalam kurun waktu 1820-1830, bangsa Bugis sudah memiliki koloni pada masa pembentukan Singapura.
Pemaparan Read ini sangat bertentangan dengan kesimpulan Christian Pelras dalam, Manusia Bugis yang menyebutkan bahwa manusia bugis bukanlah pelaut ulung.
Hal yang cukup menggembirakan adalah bangsa Bugis adalah bangsa yang beradab. "Masyarakat Bugis yang datang tiap tahun untuk berdagang di Sumatra dianggap sebagai teladan dalam cara bersikap oleh penduduk lokal. Bangsa Melayu membuat pantun-pantun yang memuji pencapaian mereka, dalam hal keberanian mengarungi laut, serta semangat yang ditampilkan ketika membelajankan barang bawaannya," kata seorang pelancong para 1792.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa pertama, kejayaan nusantara di masa lalu adalah selain dengan kekayaan sumber alam yang dimilikinya juga di dukung oleh kekuatan armada laut yang cukup disegani. Kedua, sejak dulu penduduk nusantara sudah menjalin hubungan yang harmonis antara penghuni pulau yang satu dengan lainnya. Ketiga, adanya saling dukung dan komitmen dengan tugas dan peran masing-masing.
Jika Indonesia sekarang terpuruk, apa dan siapa yang harus dipersalahkan? Bukankah sudah ada jaminan bahwa negeri Indonesia adalah tanah yang diberkati, fakta sejarah membuktikan kebesaran nusantara, sumber kekayaan alam yang melimpah, serta genetika manusia unggul: pemberani, tangkas, dan cerdas! Pertanyaan besar di hari kemerdekaan yang ke-64:Mengapa Indonesia masih terpuruk?***
"dikutip dari Tribun Timur" lebih lengkap....
